Minggu, Mei 09, 2010

Morse



Kode Morse adalah sistem representasi huruf, angka, dan tanda baca dengan menggunakan sinyal kode. Kode Morse diciptakan oleh Samuel F.B. Morse dan Alfred Vail pada tahun 1835.

Kode morse juga digunakan dan dipelajari di dunia kepramukaan atau kepanduan. Dalam dunia kepramukaan kode morse disampaikan menggunakan senter, peluit, bendera, dll. Kode morse disampaikan dengan cara menuip peluit dengan durasi pendek untuk mewakili titik dan meniup peluit dengan durasi panjang untuk mewakili garis.

Kemampuan menerima dan mengirimkan kode morse merupakan salah satu dari kecakapan yang dapat menerima Tanda Kecakapan Khusus. Kode morse juga digunakan sebagai kunci dalam memecahkan berbagai sandi, contohnya sandi rumput

Kode yang paling terkenal dalam Kode Morse adalah SOS, yaitu kode yang biasanya digunakan untuk memanggil bantuan oleh para pelaut jika kapal mereka terjebak dalam bahaya. Kode morse juga digunakan oleh para radio amatir untuk berkomunikasi, keuntungan penggunaan kode morse pada komunikasi radio adalah alat yang digunakan sangat sederhana, dan pancaran gelombang radio akan lebih jauh jika menggunakan kode morse dibandingkan dengan gelombang radio yang ditumpangi suara

Minggu, Mei 02, 2010

STJ Ambalan Tali-Fatah 2010


19 April 2010, telah berakhir masa jabatan ambalan yang dijalankan ang. 13- ang. 15, kini waktunya para praja muda melanjutkan perjuangan mengemban amanat yang telah diberikan. walau terpisah oleh jarak, hati tetap harus kokoh menjalankan setiap tantangan di depan.

Berikut adalah struktur Ambalan Tali-Fatah :

Pangdat : Yasin Fadil & Nuriza Asvirani
Pradana : Suratman & Rafiqa H.
Wakil : Sidik S. & Nur Fitriani
Juru tulis : Fajar Akhmad & Dessyka A. S. P.
Juru uang : M. Fathan K. & Lulu Anjayanti

Hari Pendidikan Nasional



Undang-Undang Dasar 1945 bertekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memperoleh pendidikan adalah hak setiap warga Negara. Jadi tidaklah berlebihan, jika pendidikan itu juga merupakan bagian dari Hak Azasi Manusia (HAM).

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei setiap tahunnya diperingati oleh pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional. Peringatan Hardiknas ini juga dilaksanakan di seluruh daerah, baik propinsi maupun kabupaten/kota. Untuk menghilangkan image negative dari masyarakat khususnya kalangan orang tua murid yang tidak mampu, bahwa acara peringatan tersebut hanya akal-akalan dan menghabiskan anggaran, biasanya acara peringatan ini dikemas dengan label
"syukuran"

Bertepatan dengan hari pendidikan tersebut, diberbagai daerah tanah air kita juga terjadi aksi demonstrasi yang dilakukan bebagai kalangan khususnya mahasiswa dan aktivis yang peduli terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia.

Renungan 2 Mei dr Budi Rarhdjo
[budi rahardjo, 2 mei 2001]

2 Mei Tahun 2001. Di suatu tempat di Indonesia.
Guru: Selamat pagi anak-anak?
Siswa (serempak): Selamat pagi bu guru.
Guru: Tanggal 2 Mei hari apa, anak-anak?
Siswa: Hari Rabuuuuu...
Guru: Bagus. Tapi, maksud ibu, tanggal 2 Mei merupakan suatu hari yang istimewa di Indonesia. Ada apa tanggal 2 Mei?
Siswa (bingung)

Demikianlah kira-kira potret pendidikan Indonesia. Jika anda tanyakan pertanyaan yang sama kepada orang di jalan, anda akan mendapat jawaban yang sama: bingung. Tanggal 2 Mei semestinya menjadi peringatan bagi kita semua akan pentingnya pendidikan. "Ya, pak. Saya tahu pendidikan itu penting", demikian kata anda dan jutaan orang Indonesia lainnya. Namun, yang bergerak dan sungguh-sungguh mencintai pendidikan di Indonesia tidak begitu banyak. Masih adakah?

Seorang kawan penulis mengingatkan tulisan atau pengalaman Richard Feynman (mendapat hadiah nobel di bidang Fisika) ketika dia mengajar di Brazil, yang situasi pendidikannya ternyata sama seperti di Indonesia. Mahasiswa malas belajar (hanya pandai menghafal teks saja). Mahasiswa akan bersorak senang ketika kuliah dibatalkan. Dosen malas mengajar dan lebih senang ngobyek. Ketua jurusan malas mengurus dosen-dosen yang tidak mau diatur. Dekan malas mengurus ketua jurusan. Sampai ke Rektor yang malas mengurus semuanya. Semuanya malas! Tapi, setiap hari mahasiswa pergi ke kampus, dosen juga ngajar, meski semuanya ogah-ogahan. Mengapa kita mengerjakan sesuatu dimana semua tidak senang? Apa tidak lebih baik semuanya berhenti saja dan tinggal di rumah? Setelah selang waktu tertentu langsung saja sang mahasiswa diberi sertifikat. Semua senang. Everybody happy.

Pendidikan juga sering dijadikan lahan bisnis. Lihatlah betapa banyaknya kursus, lembaga pendidikan yang didirikan untuk sekedar mengobral sertifikat dan gelar. Tentunya dengan imbalan uang. Apakah ini akan berlangsung terus? Hampir setiap bulan penulis mendapat tawaran dari orang untuk ikut mendirikan lembaga pendidikan. Wah, memangnya demikian gampangnya? Padahal tidak mudah membuat sebuah lembaga pendidikan (khususnya di bidang Teknologi Informasi yang sedang populer saat ini). Sebenarnya yang paling sulit adalah pengajar dan materi (kurikulum, dsb.). Ini sering tidak disadari.

Poin di atas menunjukkan betapa suramnya pendidikan di Indonesia. Why doesn't anybody do something? Well, *YOU* are that somebody. Mengapa anda mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu? Adalah anda dan saya yang ikut bertanggung jawab terhadap semua ini. Nah, pertanyaannya: maukah kita berbuat sesuatu?
(www.kaskus.us)

Senin, April 26, 2010

R.A. Kartini



Tiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Wujud penghormatan kepada Raden Adjeng Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia.

Beliaulah yang mendobrak belenggu terhadap wanita. Dulunya wanita hanya dianggap sebagai konco wingking atau tukang masak, sehingga tidak perlu bersekolah. Namun berkat perjuangan Kartini, wanita Indonesia mendapat pengakuan dan kedudukan yang sejajar dengan laki-laki. Memiliki hak yang sama dalam segala hal.



Hari Kartini

Makam R.A. Kartini di Bulu, Rembang.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Minggu, Februari 28, 2010

Longsor di Ciwidey, Bandung



Sekitar pukul 08.00 WIB, Selasa (23/2/2010), terjadi longsor di RW 18, Desa Tenjolaya, Kampung Dewata, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Sebanyak 50 rumah dan sejumlah bangunan lainnya tertimbun. Data sementara, korban tewas yang sudah berhasil diangkat dari timbunan longsor ada empat orang Dua tim dari Dompet Dhuafa (DD) Bandung diterjunkan ke lokasi longsor di RW 18, Desa Tenjolaya, Kampung Dewata, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Tim tersebut terdiri dari tenaga medis dan sukarelawan. http://video.okezone.com/play/2010/02/24/236/17198/lokasi-longsor-di-ciwidey
 

Perjalanan Barisan Cokelat Blak Magik is Designed by productive dreams for smashing magazine Bloggerized by Ipiet
Distributed by Deluxe Templates © 2008